Padang Edelewiss terbaik di Indonesia, Papandayan

Belum genap satu bulan semenjak kepergian kami mendaki gunung Prau (bukan Perahu ya), Dieng -Jawa Tengah, 26 hari setaeah hari itu kami memutuskan untuk mendaki gunung lagi. Dan masih gunung-gunung yang “mudah”. Mudah disini dalam artian bisa didaki maksimal 4 jam sudah sampai puncak, mengingat dalam rombongan ini ada anak gaul (yang lambat laun naik derajat menjadi anak gunung).

Papandayan, terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat atau sebelah tenggara kota Bandung atau 3 jam perjalanan dari ujung toll Cileunyi. Ketinggiannya hanya 265m dpl lebih tinggi 100m-an dr gunung Prau, 2565m dpl.

Kami berangkat jumat malam sepulang kantor, destinasi pertama adalah Bandung, gaya sedikit, kita cuma makan malam aja disana. Kelar makan sekitar jam 11an, langsung aja kami meluncur ke Garut. Sekitar stengah 3 kami sampai dipos awal, berhubung ini trip santai, kami putuskan untuk tidur dulu dimobil. Setelah lapor pos pendakian, stengah 8 kami memutuskan untuk naik.

Gunung ini agak-agak unik, sekitar 5-10menit jalan mendaki bebatuan udah dihadang oleh kawah belerang yang selain panas dan mengeluarkan bau yang aduhai. Salah satu teman pun hampir throw-out waktu itu, untungnya tidak. Setelah selesai melewati kawah berbatu terjal seperti kisah cinta saya, perjalanan pun masuk ke dalam lembah-ga-lembah. Ya saya sih nyebutnya sih lembah banci, karena cuma sebentar aja lembahnya, tapi siapin aja paha cadangan karena jalannya mendaki dan licin.

Papandayan terkenal dengan sumber air terbaiknya, salah satu minuman kemasan terkenal “Aguwahgataujugamerknyapa” mengambil air dari mata air ini, jadi ga heran banyak selang sliweran selama disana, dan banyak yang bocor yang menjadi godaan untuk mandi, kebayang dong mandi di alam bebas dibawah selang bocor. Yang enak nya lagi, diatas gunung juga banyak mata air, jadi cukup bawa minum selama perjalanan aja karena diatas berlimpah ruah, mau berenangan kayak pesut juga bisa.

Setelah melewati lembah banci dan tanjakannya mulai deh masuk hutan, jalan setapaknya udah ada, tinggal diikutin aja, jalannya juga masih nanjak, masih suka copot juga pahanya kadang-kadang. kadang-kadang paru-parunya yang copot.

Ternyata setelah 2 jam perjalanan sampailah kita di camping ground, namanya Pondok Salada, satu-satunya tempat dimana kita boleh mendirikan tenda, karena di atas dilarang dikarenakan adanya padang edelweiss. yayayayayaya jadi ada semacam surga tersembunyi diatas gunung itu, padang edelweiss terluas yang pernah saya lihat, not even di gunung merapi, I’ll take you there later.

Jam 10 kita udah sampe di-camping ground itu dan mulai mendirikan tenda kami yang sensational itu, biasa aja sih tendanya, cuman saya-nya aja yang lebaian pake sensational. Sementara kami yang cowo-cowo mendirikan tenda, yang perempuan pun menyiapkan makan siang (perempuannya cuma satu padahal), perut udah kosong banget begitu juga dengan hatinya so planning berikutnya setelah makan siang adalah bobok siang, cakepkan tuh bobok siang diatas gunung. dan ternyata eh tenyata dari jam 12 siang sampai jam 8 malam hujan turun dengan lebatnya. Jadilah seharian itu kami ditenda aja, mulai dari masak cemilan sore, makan malam sampe maen kartu pun ditenda tipe 36 (<-boongan) itu.

Lepas jam 8 malam yang tersisa tinggal gerimissyou aja, keluarlah dari tenda pada pipis masing-masing ditengah gelap padang itu. berhubung lokasi camping ground itu diapit oleh 2 puncak, anginnya gakuku banget. Jam 9 kami memutuskan untuk mematikan penerangan tenda dan mulai memimpikan masa lalu masing-masing.

Stengah 5 pagi bangunlah kami dengan pinggang pada pindah posisi, encok dimana-mana, demi mengejar sunrise. dengan membawa persiapan yang seadanya jalanlah kami. sebenarnya di papandayan agak susah mau ngejar sunrise karena masih 1-2jam jalan dan itu jalannya yang gak gampang, jadi kebanyakan orang yang kesini selalu ke puncak pada siang hari hanya demi melihat padang edelweiss itu. tapi jika siang hari ke puncak bakal dihadang kabut yang bikin suasana makin sulit, serba salah kan.

Selama perjalanan, kami melewati yang namanya hutan mati, jadi pohon2 di area itu mati terbakar oleh awan panas gunung papandayan, dan uniknya pohon2 itu masih tegak berdiri, suasana jadi agak mencekam memang, jadi inget salah satu scene di Lord of The Ring, takut aja tau2 ketemu Gandalf, iya kalo Gandalf, kalo Sauron gimana??

Jalananya licin banget dan basah, alas kaki terbaik mungkin sepatu sendal atau sepatu gunung low cut yang anti air, kebetulan saya pakai converse, udah diem ga usah komen, ya saya kan backpacker berbudget rendah jadi wajar dong. Sunrise ga kekejar sampe puncak, tapi kami bisa melihatnya dari suatu tempat namnanya Tanjakan Mamang.

Kemudian yang ditunggu-tunggu, Tegal Alun, dimana sepanjang mata memandang hanya ada edelweiss, GOD!! saya ga bisa komen banyak, speechless, sedih rasanya saya kesana pas ga punya pacar, gak bisa berbagi kesenangan itu. Sudahlah nikmati aja foto-fotonya, saya sudah keburu haru.

Nantikan perjalanan saya berikutnya di bulan Februari yang pasti lebih liar, menantang, norak, lebay, berbudget rendah dan seru!

Tetap liar.

Salam

Pos awal pendakian

Pos awal pendakian

Kawah Belerang

Kawah Belerang

Lembah Banci

Lembah Banci

Tenda Tipe 36

Tenda Tipe 36

Hutan Mati

Hutan Mati

Sunrise dari Papandayan

Sunrise dari Papandayan

Tegal Alun - Padang Edelweiss

Tegal Alun – Padang Edelweis

Tegal Alun

Tegal Alun

Morning Edeleweiss

Morning Edelweis

Tegal Alun

Tegal Alun

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One thought on “Padang Edelewiss terbaik di Indonesia, Papandayan

  1. Kami tunggu kedatangannya kembali.,
    mudah2an tidak kapok berkujung ke papandayan.,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: